Article Detail

Sekolah Pilihan Masyarakat

Suasana nyaman dan tenang begitu terasa ketika kita memasuki kompleks SMA Santo Yosef . Berbagai jenis pohon besar kecil nan rindang berdiri tegar, kokoh di halaman. Ruang gerak siswa yang luas, udara yang segar lepas dari polusi menjernihkan hati. Aneka bunga mekar siap menyambut setiap siswa, guru, pegawai kantor, dan siapa saja yang hendak memasuki kompleks sekolah. Kegiatan pembelajaran berlangsung tenang, semua siswa larut dalam situasi belajar yang kondusif dengan proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan. Keindahan, kedisiplinan menjadi brand di sekolah. Sekolah benar-benar dijadikan tempat untuk bertumbuh dengan keunggulan akademik dan nilai humanistik, tandas Heribertus Triwardono S.Pd, kepala sekolah. 

Lebih lanjut beliau menceritakan bahwa  sekolah ini sudah ada bersama masyarakat sejak 19 Januari 1967. Sekolah  ini tumbuh dan berkembang bersama masyarakat serta menjadi pilihan masyarakat. Didirikan Santo Yosef  bermula adanya desakan masyarakat setempat kepada Pastor dan para Suster. Menanggapi hal tersebut, Ordo SCJ  meminta agar suster-suster Order de Bogen (suster CB) menangani karya ini, dan akhirnya para suster menyanggupi untuk berkarya di Lahat. Pada tanggal 21 Mei  1936 bertolaklah lima suster CB dari Maastricht negeri Belanda. Dua diantaranya akan berkarya di Sumatera Selatan. Empat orang suster bertolak dari Tanjung Priok menuju Tanjung Karang terus langsung naik kereta api menuju Lahat. Tanggal 3 Juli 1936, mereka tiba di Lahat. Pada bulan Juli itu juga para suster misionaris telah mulai berkarya menangani sebuah HGS dan MULO (Setingkat SMP).

Makin hari, dirasa kebutuhan jenjang yang lebih tinggi yaitu jenjang SMA, untuk menampung siswa SMP semakin mendesak, karena siswa-siswi yang lulus dari SMP Santo Yosef belum bisa tertampung.  Mereka akhirnya harus melanjutkan ke luar Lahat, baik di Palembang maupun di pulau Jawa.    Melihat kenyataan ini, para Suster mencoba untuk meminta izin dari dinas setempat untuk mendiirikan sebuah SMA, tetapi izin belum akan diberikan jika SMA Negeri belum ada.  Sr. Marie Tarsis, CB akhirnya memberanikan diri untuk mendirikan SMA Negeri 1 sekaligus sebagai kepala sekolah pertama. Beberapa tahun kemudian tepatnya 19 Januari 1967  berdirilah SMA Santo Yosef.

“Di usianya yang tidak lagi muda ini berbagai cara dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan demi memberikan pelayanan yang prima kepada customer. Tidak ada hal yang sangat istimewa dari pernyataan bahwa suatu lembaga pendidikan harus memahami betul tentang pelanggannya. Ilustrasinya begini, kita adalah pelanggan koneksi internet pada sebuah provider. Tentunya ada hak dan kewajiban antara kami dan perusahaan. Jika pada suatu ketika ada gangguan tidak bisa koneksi, pasti akan menghubungi agar segera diperbaiki. Sayangnya jawabannya standar “Mohon maaf atas ketidaknyamanan, kami segera memperbaiki.” Besoknya tidak ada perbaikan dan jika ditanyakan jawabannya standar. Ini artinya tidak memahami pelanggan dan dapat dipastikan sangat kecewa. SMA Santo Yosef merasakan bahwa hidup matinya lembaga tergantung pada customer. Kemampuan bertahan tergantung pada kemampuan menghasilkan nilai yang bermanfaat atau dirasakan bermanfaat oleh pelanggan. Untuk itu,  SMA Santo Yosef terus berjuang mengupayakan pelayanan yang prima. 

Menurutnya,  sekolah ini telah begitu banyak mengukir prestasi baik segi nonakademik, maupun akademik. Segi akademik, selalu mengusahakan terciptanya pembelajaran yang mengaktifkan, mengkreatifkan, dan menyenangkan dengan pemilihan metode  dan sumber belajar yang tepat. Sumber belajar dirancang secara khusus untuk mencapai tujuan tertentu (learning resources by design). Ada juga sumber belajar yang telah tersedia dan siswa tinggal memanfaatkan yang sering disebut learning resources by utilization. Ini merupakan sumber belajar yang tidak dirancang secara khusus namun dapat dipakai untuk keperluan belajar, seperti koran, majalah, kebun yang ada di masyarakat setempat untuk materi tertentu. Siswa belajar secara langsung bagaimana menanam padi, kopi, menyadap karet, berbagai produk home industri. Dengan demikian kelas bukanlah satu-satunya pusat kegiatan pendidikan (Not the center of the class).  

Sekolah bertanggungjawab bukan hanya bidang akademis saja tetapi pembentukan nilai-nilai keutamaan yaitu Cc5- plus, Compassion, Celebration, Competence, Conviction, Creativity, Community, plus KPKC (Keadilan Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan), dan nilai-nilai keutamaan umum, seperti kedisiplinan dan kejujuran. Nilai keutamaan tersebut diwujudkan dalam Pendidikan Karakter Tarakanita (PKT) yang mendapatkan porsi jam tambahan dua jam tiap minggu. 

Untuk lebih memacu siswa berkompetisi sekolah membuat semboyan CHAMPIONS. Committed to be center of excellence (Berkomitmen untuk menjadi pusat keunggulan) Harmonizing nationalism with global network (Menyelaraskan nasionalisme dengan jaringan global) Attitude and behavior reflecting religious morality (Sikap dan perilaku yang mencerminkan moralitas religious) Multiple intelligence in competence based curriculum (Kecerdasan berlipat ganda yang diintegrasikan dalam kurikulum berbasis kompetensi) Professional and accountable school based management (Sekolah dengan manajemen yang professional dan bertanggung jawab) Innovative learning process using ICT (Proses pembelajaran yang inovatif dengan menggunakan ICT) Optimizing the roles of stakeholders for school progress (Mengoptimalkan peran stake holder bagi kemajuan sekolah) Never ending offort to get continuous improvement  (Upaya yang terus menerus untuk mendapatkan kemajuan yang berkesinambungan) Social cultural awareness and community service  (Kesadaran di bidang sosial budaya dan pelayanan masyarakat)

Saat ditanya mengenai penerimaan siswa baru tahun 2012-2013, Pak TW panggilan akrabnya mengatakan bahwa sekolah ini masih menjadi  pilihan masyarakat. Prediksi animo masyarakat yang mendaftar di sekolah ini masih besar dan tidak hanya masyarakat Lahat tetapi berasal dari berbagai kota di luar Sumatera bahkan pulau Jawa seperti Bekasi, Jakarta, dan Bandung. Tentu saja ini berkat kerja keras komponen sekolah dan kerjasama yang sangat baik dari alumni yang tersebar di seluruh tanah air, masyarakat, dinas pendidikan. Harapannya agar masyarakat tidak perlu ragu-ragu untuk mendaftarkan putra-putrinya di SMA Santo Yosef. Kami siap mendampingi, membimbing  putra-putri Anda menjadi anak yang tidak hanya unggul bidang akademis tetapi juga nilai keutamaan Tarakanita. Perlu kita renungkan, jika siswa dibesarkan dengan TOLERANSI ia belajar MENAHAN DIRI,  dibesarkan dengan DORONGAN ia belajar PERCAYA DIRI,  dibesarkan dengan SEBAIK-BAIK PERLAKUAN ia belajar KEADILAN,  dibesarkan dengan PUJIAN ia belajar MENGHARGAI,  dibesarkan dengan RASA AMAN ia belajar MENARUH KEPERCAYAAN,  dibesarkan dengan DUKUNGAN ia belajar  MENYENANGI DIRINYA, dan jika anak dibesarkan dengan KASIH SAYANG dan PERSAHABATAN  ia belajar MENEMUKAN CINTA DALAH KEHIDUPAN.  â€œTidak ada tempat seperti di rumah sendiri kecuali SMA Santo Yosef,” tegas beliau. ***Tim Mata Pena

Comments
  • there are no comments yet
Leave a comment